Thursday, September 21, 2006

Satu Cerita Tentang Pembantu Rumah Tangga (Tarmijah)


Nasibmu lah, Tarmijah. Wajahmu sama sekali tidak cantik. Hidungmu pesek seperti jambu klutuk yang disumpalkan di atas mulutmu. Gigi atasmu tonggos, terlalu jauh keluar dari bibirmu yang tebal tidak karuan. Jidatmu menonjol tak proporsional dengan mukamu yang bulat dan gempal. Kedua matamu belo dan sama sekali tidak sedap dipandang mata.

Pokoknya, nasibmu lah, Tarmijah. Buruk muka, dan menjadi babu pula. Menjadi bagian dari masyarakat yang tercampakkan walau konon sangat diperlukan. Bekerja keras untuk gaji yang tidak seberapa. Sejak kecil kau telantar, karena toh kedua orangtuamu juga tak sanggup memberimu makanan yang cukup.

Untung sajalah kau sekarang bekerja untuk tuan dan nyonya mudamu yang agak baik hati itu. Tuan Andi dan Nyonya Nita; masing-masing eksekutif muda yang sedang naik daun. Punya mobil dua, tidak ada anak, rumah cukup besar, dapur modern. Beruntunglah kau,
Tarmijah. Coba bandingkan dengan terakhir kali kau bekerja, di saudagar Tionghoa yang sedang bangkrut itu. Wah, jauh sekali bedanya.

Tuan Andi gagah tampan. Nyonya Nita cantik menawan. Kamu ...? Ah, kamu seperti kain dekil yang tersampir selalu di pundakmu. Mereka seperti sutra halus aneka warna. Kamu seperti gentong berlumut di pojok garasi itu. Mereka seperti patung marmer buatan Italia.

Pokoknya, nasibmu lah, Tarmijah. Bahkan Bang Miun, tukang sayur yang dulunya tukang ikan itu, tidak suka melihat wajahmu. Bang Miun lebih suka menggoda dan menjawil-jawil si Rukiah yang montok di seberang jalan itu. Atau mencubit-cubit
pantat Inem yang memang bahenol itu. Bahkan sampai berebut dengan si Rohmat, supir tua yang matakeranjang itu.


Tidak ada yang mau menggodamu, Tarmijah. Kamu jelek dan tak menarik sama sekali. Mukamu itu, lah. Terlalu cepat menggugurkan selera laki-laki. Padahal badanmu bagus belaka. Sebagai wanita, yang sedang tumbuh dewasa, dan bekerja membanting tulang, maka tubuhmu terbentuk bagus seperti Nyonya Nita yang menghabiskan jutaan rupiah untuk ikut fitness. Dadamu kencang, karena memang gerakan-gerakan menyapu atau
mencuci membuat otot-otot di sana selalu terlatih. Pinggulmu berisi, dan perutmu tak gembung seperti gadis-gadis manja yang kebanyakan makan hamburger itu.

Tetapi kamu juga, sih! Pakaianmu selalu kedodoran, butut dan kehilangan warna aslinya. Tentu saja. Mana sanggup kamu beli pakaian seperti Ditha, adik wanita Nyonya Nita yang kuliah di perbankan itu. Beli jeans ketat? Atau kaos yang kependekan untuk
memperlihatkan pusarmu? Jangan mimpi, lah, Tarmijah.

Nasibmu lah, Tarmijah.

Padahal sebagai manusia biasa kamu punya hasrat juga. Sudah kamu lewati masa pubertas dan menstruasimu teratur rapi. Ingin juga sekali-kali kamu punya pacar, bukan? Ingin berjalan-jalan seperti si Tinah yang katanya pacaran dengan kepala satpam
kelurahan itu. Ingin joget dang-dut seperti teman-temanmu yang bekerja di pabrik panci
dekat-dekat sini, bersama buruh-buruh pria yang kekar walau kerempeng itu.

Tetapi siapa yang mau mengajakmu, Tarmijah. Tidak ada. Belum apa-apa orang sudah melengoskan mukanya. Jadi, janganlah bermimpi tentang malam minggu yang romantis.

Duduk saja kamu di depan televisi, menonton sinetron yang bintangnya cantik tampan belaka. Bahkan para babu di sinetron itu tidak ada yang sejelek kamu, Tarmijah. Bahkan ada yang sangat seksi sehingga tuannya kepincut, lalu nyonyanya mengamuk. Kamu tak
mungkin dilirik sekalipun oleh Tuan Andi. Aman-aman sajalah kamu di sini. Nyonyamu pun sangat sayang kepadamu.

Duduk saja di depan televisi, malam-malam seperti ini, setelah rumah beres dan piring sisa hidangan malam sudah kering. Dan tuan nyonyamu di dalam kamar bergelut. Kamu
mendengar samar-samar ranjang berderit, dan nyonyamu mengerang-erang. Itulah yang bisa kau lakukan, Tarmijah, di malam minggu seperti ini. Mendengar jerit-jerit kecil nyonyamu, dan geraman tuanmu di penghujung kejadian. Lalu besoknya mencuci seprai yang di sana-sini ada bercak kering putih.

Masuk saja ke kamarmu setelah televisi kehabisan acara. Duduk di dipanmu yang tak terlalu lebar. Terlentang belum bisa tidur karena kamu punya hasrat juga. Berguling-guling gelisah karena kamu mengenang adegan di suatu siang hari libur. Tuan nyonyamu bersebadan di kamar tamu menyangka kamu masih di pasar. Terkenang kamu melihat
adegan yang begitu menggebu-gebu dan alamiah dan..... kamu ingat juga adegan sapi bersebadan di kampung. Kamu ingat kambing adikmu di kampung disetubuhi oleh jantannya dari belakang. Tuan Andi juga suka main dari belakang.

Kamu tidak bisa tidur. Lalu belajar meraba-raba tubuhmu sendiri. Meremas-remas tetekmu sendiri. Mengelus-elus pahamu sendiri. Menyelip-nyelipkan jarimu sendiri. Kamu suka begitu, Tarmijah, walau wajahmu yang buruk tak pernah sedikit pun berubah
cantik ketika sedang orgasme. Malah tambah mengerikan. Kamu bahkan melakukannya di kamar mandi setelah selesai mencuci. Rumah sepi dan kamu ingin sekali memasukkan sesuatu sambil berjongkok. Menjerit kecil sendirian karena sakit sedikit, tetapi lalu enaknya lebih banyak. Kamu masuk-masukkan jarimu, karena pernah kamu lihat pacar nona Ditha melakukannya di beranda. Kamu melihat terlalu banyak, Tarmijah.

Ah, kamu lakukan semuanya sendirian. Karena wajahmu terlalu jelek bahkan untuk si Dollah yang dungu itu. Ia membantumu menyabit rumput, lalu kamu coba-coba memikat dengan menyingkap rokmu pura-pura tak sengaja. Eh, Dollah malah menendang pantatmu karena sebal.

Nasibmu lah, Tarmijah, punya wajah buruk dan hasrat menggebu.

Kamu tak bakal menarik minat lelaki normal, karena semua lelaki suka memandang keindahan ketika menyebadani wanita. Kecuali kalau lelaki itu buta ...

Hei, mengapa kamu juga berpikir begitu. Lelaki buta. Tukang pijat tunanetra. Itulah harapan satu-satunya bagimu, Tarmijah.

Pak Kadir ... kamu memintanya datang di suatu siang ketika semua penghuni rumah sudah pergi. Kamu bilang bahwa tubuhmu pegal minta dipijat.


Ting-tong! Pak Kadir menekan bel. Kamu tergopoh-gopoh karena keasyikan merapi-rapikan dirimu di kamar. Bodohnya, kamu Tarmijah. Buat apa memakai bedak dan gincu segala, kalau lelaki yang datang itu buta! Buat apa memakai daster bekas nyonyamu yang tipis menerawang itu, kalau lelaki yang mendatangimu itu tak bisa melihat apa-apa.

Ah, kamu cuma ingin berhayal saja sebagai Cinderella sehari ini; pak Kadir adalah pangeranmu.

"Silakan masuk, Pak Kadir," katamu gugup.
"Langsung ke kamar saya saja. Tuan dan nyonya tidak ada."

Pak Kadir meraba-raba dengan tongkatnya, mengikuti langkahmu yang terlalu cepat. Nyaris saja guci indah di kamar tamu terterjang langkah lelaki buta itu. Awas, nanti kamu dimarahi nyonya, Tarmijah.

Kamu tidak sabar. Kamu tuntun Pak Kadir ke kamarmu. Lelaki tua itu tak punya kecurigaan apa-apa. Ia sudah memijat 1000 babu sebelumnya. No problem. Para babu itu memang memerlukan pijat relaksasi setelah bekerja seharian. Selama ini langganannya tak pernah mengeluh. Pak Kadir memang idola para babu yang sedang keletihan.

Tarmijah, Tarmijah ... kamu cuma bilang minta pijat seperti biasa. Kenapa kamu buka seluruh bajumu yang tadi kamu patut-patutkan di muka cermin?

Pak Kadir mulanya biasa saja. Memijat dari sini ke sana, seperti ia memijat 1000 babu sebelumnya. Tetapi, kamu Tarmijah... kamu yang mengatakan dengan suara parau, "Pijat di sini, Pak Kadir ...."

"Lho ..lho .. lho!" Pak Kadir heran meraba bukit empuk kenyal halus mulus.

Kamu, Tarmijah .... kamu nakal dan menggelinjang-gelinjang kegelian. Tidak tertawa, melainkan terengah-engah, dan berkata, "Terus, Pak Kadir .... terus yang keras ..."

"Lho ... lho ... lho." Pak Kadir terus menyatakan keheranan, tetapi terus meremas-remas pula. Istrinya yang tidak buta dan tambun itu juga suka diremas-remas seperti ini.

Kamu memejamkan matamu, Tarmijah .... lagakmu seperti bintang di film video yang kamu putar diam-diam ketika tuan nyonyamu kelupaan memasukkannya ke lemari. Kamu memang merasa keenakan, Tarmijah.

Pak Kadir tak bisa melihat wajahmu yang sama sekali tak sedap dipandang kalau sedang terangsang seperti itu. Mulutmu terbuka, tetapi gigimu yang tonggos itu mengganggu pemandangan. Hidungmu tidak bangir, dan lubangnya yang kempas-kempis itu menyebabkan tampangmu seperti kerbau saja.

Tentu saja Pak Kadir tak tahu itu. Sehingga kamu beruntung, Tarmijah. Kamu bisa merasakan tangan lelaki menjamah badanmu. Puting-putting susumu menegang dan kamu merasa sangat-sangat geli. Ingin menjerit, tetapi kamu masih punya malu juga, Tarmijah.

Tarmijah ... Tarmijah ... kamu makin nakal saja. Kamu singkapkan kedua pahamu, dan kamu paksa Pak Kadir meraba bagian terlarang (siapa yang melarang?) yang sudah agak basah itu.

"Nak, Tarmi ini mau gituan, toh!?" bisik Pak Kadir, padahal ia tak perlu berbisik karena tidak ada siapa-siapa di sana. Tarmijah mengangguk. Bodohnya kamu, mana bisa ia melihat kamu mengangguk. Pak Kadir juga sebenarnya tak mau tahu jawaban. Ia sudah mengendurkan sarungnya, dan merangkak ke atas tubuhmu.

"Pijat-pijat dulu, Pak Kadir ...." katamu Tarmijah, sambil terengah-engah.

"Oh, iya .. iya." Pemijat profesionalmu sekarang jadi tampak dungu.

Lalu kamu bawa jari-jarinya menelusup-nelusup. Kamu mengerang, mencontoh nyonyamu atau bintang film itu? Pak Kadir merasakan jari-jarinya basah dan lengket. Ia rajin sekali memutar-mutar dan menyodok-nyodok. Sialan kamu, Tarmijah, membuat orang repot dengan kegairahan-kegairahanmu. Bagaimana kalau nanti istrinya memotong kuku Pak Kadir dan melihat bekas-bekas kewanitaanmu di situ?

Kamu sekarang sedang menikmati terbang bebas menuju orgasme pertamamu di tangan lelaki, Tarmijah. Hebat kamu, Tarmijah. Walau buruk muka, tidak mau menyerah. Ingin mencapai cita-citamu yang sederhana, Tarmijah.

Pak Kadir sekarang juga terengah-engah. Ia belum pernah bertemu babu seperti kamu, Tarmijah. Sudah 1000 babu, tidak satu pun yang minta disetubuhi. Ini rupanya hari keberuntungan Pak Kadir. Ia membuka sarungnya, dan terjadilah persetubuhan yang seperti kamu inginkan, Tarmijah. Masuk lancar, berjalan sesuai rencana. Ah, tetapi kasihan Pak Kadir. Ia menggelosor setelah baru saja memasukkan kejantanannya tergesa-gesa. Kasihan kamu juga, Tarmijah.

"Gimana, sih ... Pak!" Kamu memprotes. Pak Kadir nyengir saja salah tingkah.

Kamu kesal sekali. Membayar dengan uang agak lusuh, kamu suruh lelaki malang itu pulang karena kamu ingin cepat-cepat membersihkan seprai yang basah oleh tumpahan birahi.

"Besok saya datang lagi, deh ..." kata Pak Kadir. "Tidak usah dibayar, deh ..."
Kamu tidak menjawab. Karena memang kamu ingin mencoba lagi. Kamu mengantar Pak Kadir ke gerbang, dan dia pergi setengah pincang. Dia sudah cukup renta, memang.

Lalu keesokan harinya kalian mengulangi lagi upaya itu. Kali ini, lumayan buat kamu Tarmijah. Pak Kadir bertahan lima menit sebelum menggelepar. Dia menyalahkan kamu. Katanya kamu terlalu sempit, Tarmijah. Salahmu lagi, Tarmijah. Nasibmu, punya wajah buruk dan kewanitaan yang sempit. Lelaki tak tahan berlama-lama di sana.

Tidak setiap hari kamu bisa mengulangnya, Tarmijah. Besok lusa hari Minggu, semua penghuni rumah ada untuk makan siang bersama keluarga besar. Kamu sibuk sekali hari itu, dan lupa pada hasrat gairahmu.

Tetapi hari Rabu, kamu ulangi lagi upayamu. Lebih lumayan lagi kali ini, Pak Kadir bertahan 10 menit. Kamu untuk pertama kalinya merasakan enaknya berlama-lama di bawah tubuh lelaki. Memang belum sampai mengejang-kejang seperti di film-film itu. Belum sampai gatal, bahkan. Tetapi lumayanlah. Kamu masih terlalu sempit, Tarmijah.

Lalu kamu temukan tablet obat kuat di kamar tuan-nyonya. Oh, ini yang pernah kamu dengar dari pembantu di seberang jalan, tentang tuannya yang juga suka menelan obat sebelum bersebadan dengan istri keduanya, atau istri keempatnya, atau gundiknya. Kamu tidak terlalu cepat bisa membaca, tetapi dengan mengeja kamu bisa tahu nama obat itu. Iya ...iya ... sama dengan obat yang disebut-sebut

"Pak Kadir, minum ini dulu sebelum main," katamu sambil menyodorkan satu tablet dan satu gelas.

Gila betul, kamu Tarmijah. Pak Kadir menyetubuhimu satu jam penuh! Kamu pingsan karena keenakan. Sepraimu berantakan. Seluruh kamarmu berantakan, karena kamu jatuh ke lantai dan bersetubuh di sana seperti kambing, seperti sapi, seperti ayam. Kakimu yang berotot itu menerjang rak jemuran di kamarmu; jatuh bergelontangan. Seluruh daerah di sekitar selangkanganmu rasanya pedih, tetapi kamu tak peduli. Kamu terlalu keenakan, Tarmijah. Sampai penuh keringat tubuhmu. Sampai licin lantai kamarmu.

Pak Kadir ngos-ngosan lalu rubuh menimpa tubuhmu yang sintal. Kamu memang sudah pingsan lebih dulu. Kepalamu terasa ringan. Kamu berada di langit ketujuh, Tarmijah. Bukan main!!

Pak Kadir tidak berkutik lagi.
Pak Kadir tidak bernafas lagi.

Setelah sadar dari pingsan, kamu mendorong-dorong tubuhnya yang berat. Lelaki itu tak bergerak. Kamu berteriak, panik. Celaka, Tarmijah. Lelaki itu terkena serangan jantung. Celaka, Tarmijah. Nasibmu, Tarmijah. Wajahmu buruk. Kewanitaanmu terlalu sempit. Lelaki yang menyetubuhimu mati.

Sekarang, cepat….lari Tarmijah.

Tuesday, September 19, 2006

Satu Cerita Tentang Tuhan Sembilan Senti


*Tuhan Sembilan Senti*


Oleh Taufiq Ismail

*Indonesia *adalah* *sorga* *luar* *biasa* *ramah* *bagi* *perokok*, *
*tapi *tempat* *siksa* *tak* *tertahankan **bagi* *orang* yang *tak* *
merokok*,*

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara- perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

*Indonesia *adalah* *semacam* *firdaus-jannatu- na'im **sangat* *ramah* *
bagi* *perokok*, *
*tapi *tempat* *siksa **kubur* *hidup-hidup* *bagi* *orang* yang *tak **
merokok*,*

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok ???,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

*Negeri *kita* *ini* *sungguh* *nirwana* *kayangan **para* *dewa-dewa* *bagi
* *perokok*, *
*tapi *tempat* *cobaan **sangat* *berat* *bagi* *orang* yang *tak **merokok*
,*

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru , diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok ,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkanHIV- AIDS
sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya .
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

*Indonesia *adalah* *sorga* *kultur* *pengembangbiakan* *nikotin *paling *
subur* *di* *dunia* , *
*dan *kita* yang *tak* *langsung **menghirup* *sekali* pun *asap* *tembakau*
*itu* , *bisa* *ketularan* *kena* ,*

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok
merokok,

*Indonesia *adalah* *semacam* *firdaus-jannatu- na'im **sangat* *ramah* *
bagi* *orang* *perokok* , *
*tapi *tempat **siksa* *kubur* *hidup-hidup* *bagi* *orang* yang *tak* *
merokok*,*

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap . Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok .
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala
kecil,
*sembilan *senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan
setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya

Joe Sorjan

~Di aNTara TelunJuk daN JaRi MaNies~

Wednesday, September 13, 2006

Satu Cerita Tentang Kemiskinan.......



MISKIN
Cerpen Match Al Qitrie

Malam terlalu gelap untuk ukuran seperti biasa. Awan menyelimuti langit. Hitam. Angin perlahan-lahan berhembus menyapu kehidupan. Dinginnya menembus sampai ke perbatasan kulit dan tulang. Menggeser kehangatan yang bersemayam di hati masing-masing orang. Hujan setetes demi setetes menyiram apa saja di atas tanah.
Sementara itu waktu terus beringsut larut. Di pembaringan, Anwar belum juga dapat melelapkan diri. Matanya menatap langit-langit kamar kontrakannya. Lusuh dan berdebu. Sarang laba-laba semakin ramai menghiasinya. Merubah wujud langit-langit itu menjadi, entah apa, sebut saja kumpulan sarang laba-laba dan debu.
Menempel dan berserakan di mana-mana, tak beraturan. Membentuk jalinan cerita panjang. Seperti itulah, tanpa dia sadari langit-langit itu telah mewakilinya bercerita tentang nasib yang memeluknya. Menjadi saksi perjalanan hari-hari. “Ah, betapa sulit”. Dia menghela nafas panjang.
Di kejauhan terdengar pohon tumbang. Menyusup di sela-sela suara kucuran air langit yang lebat. Meninggalkan gumpalan cemas di hati orang yang mendengar. Angin memang makin menggila, segila nasib Anwar kini.
Dulu kamar ini begitu bersih. Terjaga di segala sisi. Dia tak membiarkan secuil pun debu berkeliaran. Sore hari sepulang kerja disapunya lantai. Kaca jendela yang berdebu dibersihkan. Begitupun langit-langit kamar. Sesekali dia merubah letak tempat tidur atau beberapa barang lainnya. Jika malam, sebelum tidur tak lupa dia membereskan segala barang yang dia telah gunakan untuk beraktifitas, ataupun menyiapkan keperluan untuk kerja esok harinya. Semuanya itu dia lakukan dengan bergairah.
Perlahan-lahan kelopak matanya mulai menyodorkan gambar-gambar masa lalu. Bagai layar bioskop, hidupnya yang dulu penuh semangat kini melintas satu per satu. Adegan demi adegan. Detail demi detail. Ya hanya melintas, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Begitu angkuh. Seperti ada sekat tebal dan tinggi yang memisahkan dirinya dengan masa lalunya. Tak sedikitpun dia dapat meraihnya kembali. Apa lagi mengulangnya!
Jam tetangga kamarnya berdentang dua kali. Dibacanya kembali surat dari ibunya. Pedih. Sehalaman keluhan tergores di sana. Menciptakan sayatan baru dalam rongga dadanya. Ina – adiknya -- sakit keras, berarti butuh biaya. Sementara uang pensiun warisan ayahnya hanya cukup buat makan sehari-hari ibu dan kedua adiknya. Itupun biasanya kurang. Dadanya menjadi sesak. Disimpannya kembali surat itu. Meskipun tak pernah selesai dia baca tapi dia sudah, bahkan sangat, mengerti maksudnya.
Ibunya memang belum tahu keadaannya beberapa bulan belakangan ini. Anwar sendiri tak pernah memberitahukannya. Dia khawatir jika ibunya tahu keadaan dirinya yang sebenarnya maka akan membuat ibunya cemas dan sakitnya kambuh lagi. Anwar memang sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya yang sudah mulai sakit-sakitan.
Semenjak serangan jantung membawa pergi hidup ayahnya, dialah kini yang menjadi harapan ibu dan kedua adiknya. Membantu mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Membiayai sekolah kedua adiknya. Kuliah yang telah dia jalani beberapa semester harus rela dia tanggalkan. Banting stir bekerja di sebuah perusahaan swasta. Dikutukinya nasib yang menimpa. Masa depan yang telah dia susun sedemikian rupa harus berantakan karenanya. “Nasib baik barangkali bukan untukku”, begitu pikirnya ketika itu. Dan waktu terus berjalan mencincang hari-harinya.
Seandainya surat itu datang beberapa bulan yang lalu, tentu dia tidak akan sesak seperti ini. Biaya sakit adiknya masih bisa dia tangani. Tabungannya pastilah cukup untuk itu, atau dia bisa saja meminta pinjaman dari tempatnya bekerja. Tapi sekarang semua itu telah hilang, menghindar darinya. Perusahaan yang selama ini memberinya “masa depan” baru telah menceraikan dirinya. Menjauhkannya dari segala harapan yang susah payah dia susun kembali. Sekali lagi dia merasa digiring ke neraka kemiskinan paling dalam.
Perutnya turut mengeluh. Dari tadi siang dia belum makan.
Tadi pagi masih dipunyainya beberapa lembar seribuan, tetapi di masa sulit seperti sekarang uang sesedikit itu hanya cukup buat sarapan. Sementara tabungan telah dia habiskan. Menguap menjadi makan sehari-hari selama menganggur. Setelah itu kering. Meskipun hidup berlangsung terus, tak peduli dengan dirinya yang sedang berdarah-darah menerima sial.
Beberapa kali dia mencoba mencari pekerjaan lain. Yang dapat membantunya membangun mimpi-mimpinya kembali. Yang bersedia menyambung tiang-tiang harapan ibu dan kedua adiknya yang patah. Tak bosan dia mengetuk pintu hati nasib. Menggedor dinding tinggi kehidupan. Tapi, “Maaf, kami tak berani menerima karyawan baru!”. Atau “Kami baru saja mengadakan perampingan organisasi. Jadi tidak membutuhkan tenaga lagi”. Oh nasib, kemana gerangan dikau berpihak?
Hari-hari selanjutnya adalah jalinan cerita panjang tentang kepasrahan diantara geliat sangar kehidupan. Bagaimanapun dia telah berusaha keluar, sebisa mungkin, dari lingkaran kemiskinan yang menjerat. “Hariku mungkin hanya sampai di sini”, begitu kesimpulan yang rajin menggodanya. Tapi ibunya, Ina dan Ani terus membayang-bayanginya. Menyuntikkan semangat yang hanya tinggal sisa-sisa. Dia berusaha bangkit. Ya sekedar bangkit, lalu jatuh lagi.
Dicobanya memejamkan mata, namun layar bioskop itu semakin tajam menyuguhkan gambar. Ina yang sakit. Ibunya yang menunggu kiriman uang. Biaya sekolah Ani yang belum terbayar. Dirinya yang terkatung-katung tanpa apa-apa di sebuah kota besar. Perutnya yang lapar. Kamarnya yang berantakan. Ibunya. Ina. Ani. Dirinya. Lapar. Kerja. Miskin. Uang!
Berganti-ganti gambar-gambar itu menyesakkan dadanya. Mengejarnya. Saling berebut tempat terbanyak dalam ruang keluh kesahnya. Semua menuntut. Membayang-banyanginya. Seperti hujan yang membayang-bayangi subuh keluar dari persembunyiannya.
“Uhhh!” Ada keluhan terlontar meski suaranya tak benar-benar jelas.
Anwar bangkit. Mengenakan jaket, celana serta sepatu, kemudian membuka pintu. Angin, percik hujan dan hawa dingin berebut masuk. Sejenak dia tegak bagai patung batu. Dingin membuatnya menggigil. Dirapatkannya jaket. Pintu tertutup kembali dan Anwar menghilang. Seekor tikus menatap curiga dengan kepergiannya.
Tak ada yang melihatnya memecah keperawanan subuh. Dia memang tak butuh saksi. “Toh selama ini nasib sudah menutup mata kepadaku”, begitu pikirnya, ‘maka aku akan membuat sendiri nasibku!”. Dia terus berjalan. Meninggalkan jejak di tanah yang becek, namun hanya sebentar karena sesaat kemudian rintik hujan datang menghapusnya. Ya, jejak yang dilukisnya dengan kemiskinan. Jejak hari-harinya yang pedih. Jejak yang kini mengiringi langkahnya ke sebuah rumah besar di sebuah lorong.
Kota makin lelap. Hujan agak mereda. Pandangan Anwar tertuju ke rumah besar di hadapannya. Mengawasi. Termenung sejenak. Seberkas keraguan tiba-tiba menyerangnya. Hampir saja menciutkan nyali yang tinggal satu-satunya.
Tapi ah, apa boleh buat. Kemiskinan telah mengajaknya ke tempat ini. Menantangnya untuk tetap bertahan hidup. Dirasakannya jantungnya berdegup kencang. Berpacu dengan bayang-bayang ibunya, Ina dan Ani serta lapar yang terus memburu.
Tekadnya sudah bulat.
“Selamat tinggal moral. Persetan dengan dosa. Aku juga butuh hidup. Aku tak mau tersingkir dari orbit kehidupan”, kata hatinya mantap. Lalu menghilang ke balik jendela yang baru saja dia congkel.
Di langit, hujan tinggal percik tipis. Sayup-sayup terdengar azan subuh ….

Monday, September 11, 2006

Satu Cerita tentang "Izrail"

Bila Izrail datang memanggil
Jasad terbujur di pembaringan...
Seluruh tubuh akan menggigil
Sekujur badan nan kedinginan

Tiada lagi gunanya harta,

Kawan,karib, sanak saudara

Tinggal semua yang dikasihi

Burjuanglah hidup sepanjang zaman

Datang masanya insaflah diri

Selimut putih pembalut badan

"Wahai anakku! Jika ada sesuatu yang tak bisa kau pastikan bila dia datang, maka persiapkan dirimu untuk menghadapinya sebelum dia men-datangimu sedang engkau dalam keadaan lengah"
(Nasihat Luqman kepada anaknya)

Tiba-tiba saja ia berdiri dihadapanku. Memperkenalkan diri entah dari mana. Terus terang, aku melongo ketika orang atau lebih tepatnya mahluk itu ada dihadapanku. Entah kenapa, aku tidak terlalu kaget. Hanya saja, memang muncul rasa heran dan takut. Tubuhku yang sedang berbaring setengah terangkat. Aku menatap bengong melihatnya berdiri di hadapanku. Meski rasa takut menyergapku, aku seakan-akan tidak merasa asing dengan sosok ini.

Kayanya pernah kenal, tapi dimana gitu. Dalam beberapa saat aku seperti pikun. Lupa. Tepatnya nggak tau apakah pernah bertemu dengannya atau tidak. Sepertinya aku mengalami dejavu, pikirku. Cukup lama ia memandangku dengan diam, setelah dia menyebutkan namanya begitu saja. Padahal aku nggak minta diperkenalkan. Boro-boro perkenalan, dia begitu saja mengada, makanya siapa diapun aku nggak ngeh. Izrail katanya. Siapa ya? Rasanya nama itu pernah kudengar dengan baik. Tapi aku lagi-lagi tidak mampu menggali memori dari otakku yang tiba-tiba menjadi beku.

Ia nampaknya termasuk mahluk yang tak mau tau. Tepatnya super cuek. Apakah aku mau atau tidak, nampaknya ia memang tak peduli. Bilamana ia mau, ia akan memperkenalkan diri. Bila tidak, ya sudah lewat begitu saja. Tak peduli orang yang disapanya mau atau tidak. Apakah yang di datanginya jantungan atau tidak. Baginya itu nampaknya tidak menjadi soal benar.

Apalagi kemunculannya yang tiba-tiba begitu. Seperti menyergap dari ketiadaan, muncul begitu saja. Bagi yang penakut, mungkin kemunculannya bisa membuat semaput. Dia seperti hantu. Untungnya aku termasuk bukan manusia yang kagetan. Sehingga kemunculannya yang tiba-tiba itu tidak terlalu membuatku semaput. Tapi yang jelas memang otakku jadi beku. Seperti sekarang ini. Memandang dengan bodoh kesosok yang luar biasa ganteng ini.

Kupikir-pikir, memang aku belum pernah melihat wajah seperti dia ini. Wajahnya lebih mirip manekin yang dipajang ditoko-toko ketimbang manusia. Halus, berkulit bersih, bahkan seperti menimbulkan pendar sinar. Meskipun, kebersihan kulitnya agak sedikit tidak lazim dengan warna bersih yang memerah dadu seperti pipi bayi itu. Dia senyam-senyum dikulum, seperti seorang teman lama yang sedang menggoda. Wah, pikirku, ni orang kalau ikut kontes Indonesian Idol atau AFI barangkali langsung menang, yang lainnya langsung bertumbangan.

"Sudah tau siapa aku?", lanjutnya memecahkan kebingunganku.
"Eh..emmmm yyyaa...siapa ya", dengan sedikit gemetaran dan tergagap-gagap aku menjadi grogi, tapi lagi-lagi aku masih belum ngeh siapa dia, padahal dia sudah menyebutkan namanya. Nama itu memang terdengar tidak asing. Cuma, aku lagi-lagi lupa dimana pernah mendengar nama itu.

Dia tersenyum simpul. Swear, senyumnya termasuk kategori senyum manis bagi makhluk berjenis kelamin laki-laki (terus terang saja gender ini perlu saya buat dengan font italyc karena saya sendiri bingung ini orang laki-laki atau perempuan).

Kemudian dengan perlahan ia berkata" Aku diminta menjemputmu. ..".
"Siapa?", tanyaku masih setengah bingung.
"Dia...", katanya pendek.
"Dia siapa ya?", tanyaku lagi, otakku masih beku, tak bisa menduga dan tak tahu dengan yang ia maksud.
"Kkkamu sendiri siapa?", tanyaku dengan sedikit gagap tetapi lebih mantap.

Keberanianku muncul begitu saja. Nampaknya, ia tidak kaget dengan reaksiku yang nampaknya masih belum begitu jelas. Aku sendiri masih mencoba mengingat-ingat. Tapi, rasanya memang sel-sel kelabu otakku jadi tumpul tak bisa berpikir. Entah kenapa, kemampuan berpikirku jadi mandeg. Daya ingatku seperti berputar-putar tak menentu, tak bisa mengatur alur logis yang benar. Melompat-lompat dan terputus-putus begitu saja seperti komputer yang perangkat lunaknya error karena kerusakan prosesornya. Kira-kira pernah kenal dimana dengan sosok aneh ini. Tanpa ba-bi-bu lagi nongol dan langsung memperkenalkan diri. Kucoba mengingat-ingat sekiranya aku pernah bertemu dengannya. Disuatu tempat, di suatu waktu.

Disela-sela kepikunannku, aku mencoba mengingat-ingat. Apakah teman sekolahku dulu pikirku. Ah, kelihatannya bukan. Tapi tetap tak bisa kuingat, siapakah pemilik sosok ganjil dihadapanku ini. Lagi pula kami masih sering kumpul-kumpul satu sama lain, meskipun sudah hampir 10 tahun angkatan kami habis alias pada lulus dari bangku kuliah. Ah, nampaknya bukan. Pelan-pelan kuhimpun daya ingatku, sedikit demi sedikit aku merasakan otakku melumer.

Tak ada dari temanku yang penampilannya mirip dia ini. Meskipun dari lain jurusan, aku masih ingat satu persatu beberapa temanku semasa kuliah dulu. Frame demi frame aku mencoba memutar kembali wajah-wajah temanku. Si Bambang yang pernah dipenjara dulu karena aksi bakar ban di kampus. Atau si Nirwan yang jadi budayawan. Walaupun aku cuma satu dua kali ketemu dengan dia toh aku masih mengingat wajahnya. Bahkan beberapa teman satu kampus yang cuma kenal muka pun aku masih rada-rada ingat. Lha yang ada didepanku ini benar-benar asing banget. Walaupun samar-samar wajah itu seperti familiar dengan ku.

Wajah sesosok wanita melintas sekilas, Ah tapi bukan dia, bukan dia, dia sudah lama pergi. Aku tepiskan bayangan yang melintas dari masa lalu itu. Entah kapan ketemunya akupun tidak tau. Tapi memang ada satu wajah yang sempat melintas dikepalaku, tapi tidak mungkin dia, soalnya dia memang cewek. Tapi, yah yang berdiri di hadapanku ini memang susah kujelaskan apakah cewek atau cowok. Ahhh, mungkin kawan se SMA dulu pikirku. Mencoba tidak menyerah, untuk mengingat dia yang tiba-tiba berdiri didepanku. Ingatanku pun melayang ke SMA dulu untuk mencari-cari dan mencocokkan siapa gerakan teman SMA yang mirip-mirip dia ini. Lagi-lagi aku tidak menemukan sesorang pun yang mirip dia. Kemudian kujelajahi kenangan SMP dan sekolah dasar.

Blank...
Benar-benar blank nih pikirku, persis komputer yang tidak ada BIOS-nya. Siapa dia ini ya. Aku membatin, sambil menatap sosoknya. Mereka-reka, mencoba mengingat dan menggali dari sel-sel kelabu diotakku. Uhh..., rasanya...nggak ada ingatan sama sekali tentang sosok yang satu ini.
"Ngomong-ngomong sebenarnya kamu ini siapa...", kegugupan dan kebengonganku sudah hampir lenyap. Ganti keingintahuanku muncul tentang dia sendiri.

Sejenak ia menatapku lekat-lekat, kemudian "Ehm..aku sebenarnya pernah kamu kenal duluuuuu sekali". Ia malah menjadi sedikit grogi. Ia mencoba memberi penekanan pada kata dulu. Jadinya terdengar sedikit aneh. Dan terus terang, senyum dikulumnya itu membuat beberapa bulu-bulu halus ditekukku mulai meremang.
"Dddulu kapan yyya?" lanjutku setengah gemetar menuntaskan keingintahuanku.

"Ya dulu, sewaktu kamu baru mau disinari oleh Dia".
Ha....apa maksudnya "disinari". Disinari apaan ya.
(Sepotong ayat tiba-tiba melintas, membuka suatu kenangan asosiatif masa yang telah lama sekali berlalu, Alif Laam Mim Raa, (QS 13:1).
Lagi pula, kok ucapannya sangat takzim sewaktu ia ucapkan "Dia". Bahkan setengah takut-takut.
"Aku diminta segera menjemputmu" , katanya sedikit lebih takzim kepadaku.
"Haaa". Aku melongo antara bingung, heran, takut, dan takjub menjadi satu.

Namanya Izrail
"Ya Allah", ujarku setengah tak percaya. "Engkau...engkau. .. Izrail malaikat?", tanyaku.

Ia mengangguk. Baru kusadari ia yang berdiri di hadapanku ini memang berkulit sangat bersih. Bahkan bisa kubilang bersinar. Persis seperti gambaran buku-buku tentang orang-orang yang ahli ibadah. Halus, nyaris tanpa otot dan bulu. Ya mirip kulit bayilah. Ya bulu, sama sekali tidak ada bulu dikulitnya. Wajahnya ganteng, bahkan nyaris cantik. Mungkin kenyal-kenyal dikit kalau dipegang-pegang seperti bunyi iklan sabun mandi "Dove", pikirku. Aku yakin, ia bisa menjadi Casanova nomor wahid kalau ia mau. Atau kalau mau jadi iklan sabun mandi, mungkin cocok untuk sabun mandi apapun. Dalam arti sabun mandi kecantikan atau kegantengan. Soalnya memang sampai saat ini, kalau saja ia tidak bersuara, sulit sekali membedakan antara laki-laki atau wanita.
Rambutnya teratur rapi tidak panjang dan tidak terlalu pendek, lurus tergerai. Sedang-sedang saja, tidak seperti orang yang habis bercukur maupun tidak bercukur lama. Malah nampaknya tidak pernah ditumbuhi kumis. Alisnya nyaris bertemu diatas hidungnya yang bangir. Dengan sorot mata yang lembut namun dingin. Bibirnya seolah terus-menerus tersenyum simpul, setengah meledek melihat kebingungan dan sekarang kekagetanku. Bahkan, sebenarnya lebih mirip bibir joker musuh bebuyutannya tokoh komik Batman dan Robin atau salah satu bintang film yang menjadi ikon sabun mandi terkenal. Walah..., senyumnya memang mirip Tamara Blezinky. Tidak ada yang aneh sebenarnya kalau saja orang tidak berada dalam jarak dekat. Aku yang cuma beberapa puluh senti darinya bisa melihat keganjilan sosok yang jangkung dan tampan ini. Bau harum yang tak pernah kucium dari bunga atau pewangi manapun dihirup hidungku. Rasanya bau harum, manis, dan menenangkan. Kok ya, si Izrail ini pake minyak wangi darimana pikirku. Bisa membuat aroma terapi seperti itu. Mungkin efek wewangian ini juga yang menenangkan diriku, Entahlah, aku sendiri masing dipengaruhi kebengongan dan kebingungan.

Aku masih membanding-bandingk an sosoknya dengan beberapa public figure yang sering kulihat di bioskop dan televisi. Seingatku tidak ada peragawan ataupun bintang film yang mirip dengan dia ini. Leonardo Di Caprio yang tampan imut-imut pun tidak seperti dia, atau Pau Min Che yang aktor F4 pun jauh banget. Entah suku apa si Izrail ini. Dari melongo, kaget, bingung sekarang ada yang merambat pelan-pelan disekujur tubuhku. Bulu-bulu kudukku berdiri serentak, meremang diantara keringatku yang mulai merembes dan terasa dingin disekujur tubuhku. Aku mendadak disergap rasa takut amat sangat.

Namun itu tak berlangsung lama. Entah darimana datangnya, perasaanku yang campur aduk itu menemukan titik keseimbangannya manakala mencermati sosok yang berdiri dihadapanku ini. Wah, memang efek wewangian ini yang membuatku tenang pikirku. Tubuhku sudah kembali ke posisi rebahan di pembaringan. Tanpa daya. Kuamati lagi sosok Izrail yang ada di hadapanku. Tepatnya bukan dihadapanku. Tapi diujung ranjangku.

Ya, saat itu aku sebenarnya lagi terbaring lemas dipembaringanku. Bukan sakit atau pun meriang. Cuma seperti kurang gairah. Waktu itu sudah menjelang tengah malam. Jadi sebenarnya aku sudah bersiap-siap mau rebahan untuk tidur setelah membolak-balik beberapa lembar surat dari Al Qur'an versi H.B. Jassin yang diberi judul "Bacaan Mulia". Namun kedatangannya yang tiba-tiba membuyarkan kantukku. Tak ada yang bisa kukatakan saat itu. Pelan-pelan, karena kulihat ia juga cuma berdiri disitu, aku mulai mencoba menenangkan diri. Menatapnya dengan tolol. Lalu kuberanikan diri membuka dialog lagi setelah beberapa detik kebisuan melanda kami berdua. Aku mulai menyadari datangnya sesuatu.

"Sudah waktunyakah aku?", tanyaku pelan. Sangat pelan sekali. Kupikir ia tak mendengar ucapanku. "Ya, sudah saatnya menghadap Dia", katanya. Beberapa jenak aku pun cuma bisa menatapnya lagi. Tanpa komentar dan rasa apapun. Hambar. Lalu entah bagaimana tiba-tiba saja aku nyeletuk tenang. Lagi-lagi, kurasakan ketenanganku karena pengaruh wewangiannya.
"Boleh aku meminta sesuatu sebelum engkau mengambilku. ..", harapku. Ia tidak kelihatan bimbang, malah sepertinya sudah tau kalau aku akan sedikit rewel. Ia cuma mengangguk. Lalu, entah ide darimana, lidahku fasih bertanya. "Ceritakan tentang kamu...".

Hikayat Izrail
Begitu saja. Ketika Ia Berkehendak melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya, maka aku mengada seperti yang lainnya dari jenisku. Tercipta begitu saja dari al-Haba dan Nur Muhammad, berkas-berkas debu dan cahaya yang memanifestasikan Kun Fa Yakuun. Aku adalah satu diantara yang tak terhitung, yang Dia ciptakan untuk menjaga kelangsungan Kun Fa Yakuun. Aku adalah bagian dari Kehendak dan Kemahakuasaan- Nya. Ada milyaran proses yang menyertai Kuasa-Nya. Sejumlah itulah kami ada. Baik yang nyata maupun yang kasat mata. Baik yang terasa maupun tidak terasa. Baik di dalam maupun di tapal batas semesta.

Masing-masing dari kami mempunyai tugas-tugas yang spesifik. Aku adalah salah satunya yang bertugas setiap saat, bersiap sedia bilamana semua makhluk sudah tiba untuk dikembalikan kepadaNya. Karena aku dari jenis makhluk yang mengikuti kepatuhan-Nya, maka aku sebenarnya tidak pernah terikat oleh ruang dan waktu, kendati aku selalu mengikuti arus Sang Waktu, seperti layaknya mahluk lain yang berada dalam kisaran tersebut.

Jadi pendeknya aku tak pernah mati, sebelum yang lainnya kumatikan atas kehendak-Nya. Atau makhluk semacam itulah; Yang bertasbih tanpa kenal lelah, tak kenal waktu ataupun pengertian-pengerti yang relatifistik seperti yang dinisbahkan kepada kaummu.

Tugasku ya seperti yang kamu rasakan ini, mengembalikan serpihan-serpihan cahaya kembali ke asalnya, ke awal mula penyaksian-Nya, ketika kalian bersaksi "Ya, Kami bersaksi!" . Aku biasanya cuma sekedar menerima catatan dari Lauh Mahfuzh, siapa-siapa yang harus kujemput saat itu. Hanya saja, karena aku tak pernah mengenal waktu, aku bisa berada dimana saja, kapan saja, tapi bukan Coca Cola lho.

O ya, ngomong-nomong soal debu & cahaya. Memang aku terbuat dari serpihan-serpihan debu & cahaya yang menjaga proses Kun Fa yakuun. Sebenarnya, aku dan yang lainnya ada karena Dia mempunyai Kehendak dan Keinginan Yang Tak Terbantahkan; Dia ada karena Kekekalan diri-Nya, kemandirian- Nya, sehingga bagi selain-Nya, maka Dia adalah Perbendaharaan Tersembunyi.

Aku ada, makhluk lainnya juga ada, semata-mata karena limpahan rahmat dan kasih sayang-Nya, sehingga ketika Dia mendeklarasikan Kekekalan-Nya dan Kemandirian- Nya yang Absolut maka Dia berkata:


"Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u'rafa fa khalaqtu al-khalqa fabi 'arafu-ni --Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, Kuciptakanlah makhluk maka melalui Aku mereka kenal Aku.


Dia ucapkan Basmalah sebagai Rahmat dan Kasih Sayang yang Dia limpahkan, sebagai bagian dari Perbendaharaan- Nya yang tak akan ternilai oleh semua makhluk-Nya, tak akan terbalaskan kecuali oleh rahmat dan hidayah-Nya sendiri. Maka, dalam pemeliharaan Asma Ar-Rahmaan dan ar-Rahiim, Dia firmankan kehendak-Nya "Jadilah!" dan muncullah cahaya kemegahan-Nya sebagai Nur Muhammad, sebagai citra awal mula-Nya yang sempurna; kemudian aku mengetahui bahwa melaluinya aku akan mengenal-Nya.

Dalam pusaran waktu, yang berputar melawan detak Sang Waktu, Nur Muhammad adalah cahaya-Nya yang tidak tercitrakan di alam nyata; kecuali bagi mereka yang memiliki qolbu Mukminin dan mereka yang menempatkan dirinya sebagai bagian darinya. Ketika Nur Muhammad menyinari zarah tanpa massa, yang kelak ditakdirkan menjadi al-Haba, maka dalam kuatnya pusaran waktu, Thaasin adalah firman-Nya yang memaujudkan kekuasaan-Nya, terciptalah minyak zaitun yang diberkahi, yang kilau kemilaunya mampu menerangi, kendati tanpa disentuh api.

Simetri Kegaiban Mutlak-Nya pecah mandiri karena kehendak-Nya semata; Maka dari Kegaiban Mutlak-Nya, melimpah dengan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya, al-Iradah-Nya goncangkan kegaiban sehingga gelombang al-Qudrah-Nya maujud mencapai batas-batas untuk segera munculkan al-Haba sebagai debu awal mula dan semburat cahaya Nur Muhammad meneranginya, hingga "Jadilah!" lelehan minyak zaitun itu seperti minyak tak tembus cahaya, lantas kehendak-Nya terkonfirmasikan sebagai plasma awal mula yang meledak-ledak dengan sendirinya, ciptakan gelombang Dentuman Awal Mula (Big-Bang), yang lontarkan al-Haba sebagai debu-debu materi pemula, yang luaskan ruang awal-mula dalam ketakberhinggaan Sang Waktu yang mengada menjadi fondasi alam nyata; darinya muncul salah satu kaumku yang mampu menjangkau setiap sudut-sudut semesta; membangun superspace awal mula; Dari Nur Muhammad, maujud salah satu kaumku mengikat semua maujud al-Haba menjadi semua makhluk, baik sendiri-sendiri sebagai gelembung-gelembung kuantum, maupun sintesa dari banyak zarah menjadi citarasa-citarasa , inti-inti, atom-atom, molekul-molekul, sel-sel, jaringan-jaringan, organ-organ, obyek-obyek, menjadi galaksi-galaksi, menjadi bintang-bintang, menjadi planet-planet, batuan, pegunungan, lautan, tumbuhan, binatang, manusia, dan menjadi dirimu. Kaum mu, tercipta dari proses setelah milyaran tahun Kun Fa Yakuun berjalan. Itulah tanah lempung dari seluruh penjuru bumi, yang pernah kuambil dulu. Lantas kemudian Dia tiupkan Ruh dari cahaya-Nya. Dia berfirman ketika itu,

Alif Laam Ra, (Qs 2:1)
Alif Laam Mim Ra (Qs 13:1)

Cahayamu Dia ciptakan dengan penuh rahmat, kasih sayang dan kemuliaan-Nya. Maka "Jadilah!" kaummu yang mengemban semua amanat kesempurnaan citra-Nya; Amanat yang tak sanggup diemban kaumku, amanat yang tak sanggup diemban oleh semua makhluk kecuali kaummu. Adam yang diciptakan sebagai manusia sempurna pertama, adalah moyangmu, yang memahami asmaa-a-kullahaa, yang menjadi khalifah pertama mengemban amanat itu.

Kamu mungkin heran, kalau aku sendiri sebenarnya mahluk yang sangat tak kasat mata. Serpihan al-Haba dan Nur Muhammad adalah bahan bakuku, yang terhalus ciptakan diriku. Disaat tertentu kaumku jadi sangat nyata dan bisa berbentuk apa saja.
Persis seperti cahaya yang memantul atau bayang-bayang yang timbul dari setiap makhluk dibawah cahaya. Karena aku dekat dengan esensi dirimu, maka penampakkanku sebenarnya sangat tergantung pada apapun yang menggerakkan tindakanmu, motivasimu, dan niat-niatmu. Bagi kaum sejenis ku, bentuk tak berarti apa-apa.

Selama milyaran tahun, Dia telah menetapkan masing-masing dari kami dengan urusan-urusan yang spesifik. Dia telah berfirman, Thaahaa (QS 20:1) Untuk menyingkapkan segala sesuatu, dari Asma-asma-Nya yang menjadi ketentuannya. Yang kelak engkau kenal sebagai, Alif, Ba, Jim, Dal (ABJAD) 1,2,3,4 (desimal) 10101010.... (biner)
Kami adalah kaum spesialis, dengan perintah-perintah- Nya, yang tak bisa kami bantah. Kami menyertai setiap gerak-gerik segala makhluk selain kaum kami. Karena tugas kami memang begitu. Kami awasi segala perilaku dan tindak tanduk kaummu, kesesatanmu, kemuliaan-mu. Kami bukan memata-matai, tetapi sekedar mencatat atau tugas-tugas khusus lainnya.

Semuanya kami catat sesuai dengan yang kami ketahui. Tapi lebih tepatnya menjadi saksi atas proses kesempurnaanmu, dengan rahmat, anugerah, kasih sayang, hikmah, keadilan dan kebijaksaan- Nya. Dia telah berfirman dengan kelembutan sebelum semuanya ditampilkan dengan Basmalah, Kaf ha ya Ain Shaad (Qs 19:1) Kelembutan itu adalah "yatalaththaf" (Qs 18:19) yang memunculkan Rahmat dan Kasih Sayangnya ketika Kun fa Yakuun (Qs 36:82) dicetuskan sebagai perintah penciptaan dengan ketentuan yang pasti terjadi (QS 69:1).

Tugas yang kuemban entah sampai kapan, aku sendiri tidak pernah diberi tahu. Seperti aku misalnya. Tugasku sangat spesifik untuk mengembalikan ruh segala mahluk kembali kepada-Nya. Setelah itu, ya sudah, petugas yang lain dari jenisku akan meneruskan proses itu. Begitu saja setiap saat dari waktu ke waktu. Monoton memang. Tapi entah kenapa aku senang-senang saja menjalankan titah-Nya itu. Bagiku menjalankan perintah-Nya bukan sekedar tugas atau perintah. Tapi menggairahkan unsur-unsur pembentukanku.
Entah sudah berapa banyak aku mengembalikan ruh setiap mahluk di semesta ini. Dari kaum apa saja, dari ras apa saja. Yang baik-baik ataupun yang durhaka. Yang sedang sekarat ataupun yang sehat-sehat saja. Pokoknya, yang berdiam disetiap sudut semesta, yang mengikuti proses sejak Kun Fa yakuun difirmankan.

Aku sendiri, tentu saja menjadi bagian dari proses itu. Tapi karena kuasa-Nya, tugas kami memang cuma menjaga agar proses itu berjalan seperti yang Ia Kehendaki. Kehendak-Nya adalah Kemutlakkan- Nya. Maka kaum kami seringkali merupakan bagian dari apa yang disebut sunnatullah. Aturan dan ketetapan-ketetapan yang menyertai kun fa yakuun, baik yang pasti atau tidak pasti.

Kenapa Aku? Kenapa aku yang ditugasi begitu? Ini ada sejarahnya. Kan tadi sudah kukatakan, bahwa aku dulu pernah mengambil debu dari bumi. Ketika Dia hendak menciptakan Adam, moyangmu itu, Dia mengutus satu malaikat yang sebenarnya tugasnya memikul 'Arsy untuk membawa debu dari bumi.
Ketika dia ngotot ingin mengambil debu dari bumi, Bumi berkata "Aku memintamu demi Zat Yang telah mengutusnya agar engkau tidak mengambil apa pun dariku sekarang yang neraka memiliki bagian darinya". Malaikat pemikul Arsy terkejut, maka dia pun batal mengambil debu bumi.

Ketika ia melaporkan kepada-Nya, Dia berfirman "Apa yang mencegahmu untuk membawa apa yang telah aku perintahkan kepadamu?". Dia menjawab, "Bumi telah meminta kepadaku demi keagungan-Mu, sehingga aku merasa berat untuk menolak sesuatu yang meminta demi Keagungan-Mu" . Maka Allah kemudian mengutus malaikat lainnya kepada bumi, tetapi bumi mengatakan alasan yang persis sama seperti sebelumnya.

Demikian sampai entah berapa milyar tahun dalam ukuranmu sampai Allah mengutus semuanya. Akhirnya Allah mengutusku untuk mengambil debu. Bumi pun mengatakan seperti sebelumnya. Tapi, sudah menjadi kehendak-Nya kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan debu dan tanah liat akan ditugaskan kepadaku. Aku berkata kepada bumi,"Sesungguhnya Dia yang mengutusku lebih berhak untuk ditaati daripada kamu".

Bumipun bungkam seribu bahasa dan pasrah atas kehendak-Nya. Akupun mengambil dari permukaan bumi seluruh tanah yang baik dan buruk, semua unsur yang ada di Bumi yang mengandung Carbon, Hidrogen dan Oksigen, dan membawanya kepada-Nya. Lalu Dia mengucurkan air surga kekumpulan debu bumi itu sehingga menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk yaitu minthiin (Qs 23:12), dan darinya Ia menciptakan Adam." Itulah sebabnya kenapa aku ditugaskan untuk mengambil ruh manusia dan mengembalikannya ke Yang Berhak Menentukan Nasib.

Aku tak mengenal belas kasihan. Dulu, aku pernah berbelas kasih kepada manusia yang hendak kucabut nyawanya. Namun, kehendak Allah mengandung rahasia-rahasia yang tersembunyi, sehingga akupun malu melakukan penentangan Kehendak-Nya. Suatu hari, aku diperintahkan mencabut nyawa seorang perempuan di padang pasir yang panas. Ketika kudatangi, dia baru saja melahirkan anak laki-laki. Aku menaruh belas kasihan kepada perempuan itu karena keterpencilannya, dan juga kasihan terhadap anak laki-laki perempuan itu karena masih bayi namun tidak terawat di tengah padang pasir yang buas. Namun fatal akibatnya, karena anak kecil dimana aku menaruh belas kasih itu ternyata adalah penguasa lalim dan tiran yang tak ada duanya di bumi. Dari situ, aku memahami bahwa "Mahasuci Dia yang memperlihatkan kebaikan kepada yang dikehendaki- Nya!".

Ketika aku berbelas kasihan, maka aku tidak mencabut nyawa bayi itu, tapi aku kemudian menyesalinya karena apa yang kuanggap kebaikan ternyata benih kejahatan yang kubiarkan tumbuh karena aku salah menafsirkan kehendak Tuhan
Izrail terdiam sejenak. Agaknya ia masih mengenang apa yang dilakukannya dulu. Kemudian ia melanjutkan. Jangan tanya siapakah ibu bapakku, seperti layaknya makhluk lainnya yang beribu bapak. Katakan saja, aku manifestasi Kehendak Yang Kuasa. Manifestasi al-Qudrah setelah Ia memfirmankan "kun!".
Seperti saya bilang tadi, kaum sejenisku tercipta begitu saja karena Ia Berkehendak. Kalau kamu bertanya berapakah banyak tugas yang telah kulakukan? Aku sendiri tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Karena pengetahuan tentang itu tidak kami miliki.

Ada yang lain dari jenisku yang melakukan hitung menghitung. Itu bukan tugasku. Aku jadinya memang mahluk yang sangat spesifik. Sebenarnya kalau soal spesialisasi begini, kami tidak ada apa-apanya dibanding kalian manusia. Soalnya, hanya kaum kalianlah yang diberi kehendak bebas untuk berpikir, memilah dan memilih dengan bertanggung jawab. Kaum kami tak sanggup memikulnya, karena kami telah melihat dampak-dampaknya yang mengerikan.
Dia pun menghendaki kami bertasbih dan sujud dihadapan Nenek Moyangmu. Pernah kami protes begini-begitu sewaktu kami diberitahu bahwa Dia Berkehendak menciptakan mahluk manusia. Namun, Dia Maha Mengetahui atas apapun yang terjadi sejak Awal dan Akhir.
Kami sebenarnya terikat Sang Waktu seperti kaummu. Sang Waktu adalah kaum sejenisku. Ialah yang memungkinkan perubahan. Kami sebenarnya pun tau kalau manusia akan selalu begini begitu di semesta yang Dia ciptakan dengan rahmat dan kasih Sayang-Nya yang tak terbalaskan. Yang tidak kami miliki ada pada makhluk yang satu ini. Keinginan, akal, dan atribut lain yang kami tau bakal jadi masalah nanti.
Kami memang sedikit iri, sampai Dia menunjukkan kuasaNya atas semua makhluk manusia. Kalian sebenarnya lebih tahu dari kami atas segala mahluk yang pernah Ia ciptakan.

Kami pun lalu sujud dihadapan nenek moyangmu, Adam. Cuma satu makhluk yang tak mau sujud. Ialah Iblis yang kemudian akan selalu mendampingi kalian dalam proses Kun Fa yakuun. Maka, iapun terkutuk. Allah berfirman :


"Keluarlah engkau dari padanya, karena sesungguhnya engkau terkutuk, dan sesungguhnya laknat atasmu sampai hari kemudian."

Begitulah, Iblis pun menjadi musuh abadimu dan musuhmu yang sejati. Ia menyusup di kumpulan-kumpulan debu al-Haba yang sekarang maujud menjadi semua bentuk, karena keinginan, karena hasrat, karena syahwat, karena ketamakan, kerakusan, kesombongan, dan penyakit-penyakit Sang Iblis lainnya. Aku tak kuasa mengusirnya dari sekitarmu, soalnya memang bukan tugasku. Kan tadi sudah kubilang kaumku adalah kaum spesialis. Begitulah aku.

Izrail mengakhiri kisahnya. Aku terdiam. Kemudian, karena tugas-tugasnya itu aku bertanya tentang cara dia mengakhiri kehidupan seseorang, cara dia mengambil ruh makhluk bernyawa. "Proses pengambilan ruh? ", dia mengangkat alisnya.

Sebenarnya bagaimana caraku mengambil ruhmu itu tergantung dari banyak hal. Dan semuanya ada didiri kamu sendiri. Ada yang mungkin menurutmu kelihatan mudah, ada juga yang sulit. Ada yang berkesan ada juga yang tidak menyimpan kesan apa-apa. Aku sendiri tidak tau kenapa bisa tidak berkesan sama sekali. Ia maunya begitu kok.

Cara mengambilnya pun macam-macam. Kan sudah ku bilang kalau bahan dasarku adalah cahaya. Penampakanku sebenarnya tergantung dari kamu sendiri. Ada banyak hal yang mempengaruhi penampakan ku. Tapi, yang utama memang segala gerak gerik dan tingkah laku yang pernah kamu lakukan di semesta ini, akan mempengaruhi wujud penampakkanku.
Demikian juga cara mengambil ruh kehidupan yang bersemayam di wujud fisikmu, tergantung pada kebandelan dan kepatuhanmu. Memang kaum mu ini termasuk makhluk yang diistimewakan- Nya. Sangat disayang, sangat sempurna dibanding makhluk lainnya. Hanya, seringkali kaum kamu itu ngeyel.

Kalau tidak, malah bisa dibilang pin-pinbo alias pintar pintar bodoh. Dan yang paling menjengkelkan, kalau kaum kamu ini sudah dikuasai oleh penyakitnya Sang Iblis yang terusir. Walah, susahnya minta ampun. Padahal pengambilan ini sebenarnya proses yang biasa-biasa saja. Kamu sendiri kan tahu tiap saat ada saja yang kuambil. Dengan baik-baik atau dengan paksa, dengan sendiri-sendiri atau berkelompok, dengan senang atau dengan ketakutan. Memang sih aku sering datang tiba-tiba. Maklum namanya cuma makhluk yang cuma menjalankan perintah. Aku sendiri tidak tahu kapan harus segera menemuimu. Itu rahasia Dia Yang Penuh Rahasia.

Kaum kami pun, yang bisa dibilang 100 % patuh dan selalu beribadah kepada-Nya, tak tau apa-apa kalau menyangkut urusan takdir makhluk. Sungguh, tugas kaum kami cuma memenuhi perintah Dia. Memang sih seringkali ada delay sewaktu kami menjalankan tugas. Biasanya kalau ada delay, kehadiran kami akan didahului aura yang mempengaruhi kelakukan mahluk yang akan kami ambil. Mungkin kamu sendiri tidak menyadari hal itu. Tapi begitulah. Kaum kamu sebenarnya ada di dalam genggaman-Nya dengan ketat. Ada yang digenggam erat-erat. Ada yang direnggangkan, sampai kesombongan menyergapnya. Dan mengira, dirinya sangat hebat dan berkuasa, sampai-sampai dia pun menafikan peran Tuhannya. Padahal, semua malapetaka, semua kehinaan, semua hal yang buruk-buruk dapat terhindar dari dia semata-mata karena Dia sangat menyayanginya.

Akhirnya, kesombongan itu menjerumuskan dirinya dalam banyak kesesatan dan kebodohan. Benar, sombong, bodoh dan sesat itu sebenarnya hampir beriringan, karena itulah karakter Azazil, sang Iblis yang mengira dirinya pantas disujudi karena ilusi kesuciannya. Banyak kaummu yang terkena ilusi palsu itu. Maka berhati-hatilah, sebenarnya semua manusia mempunyai peluang untuk tergelincir ke dalam perangkap tipu daya Sang Durjana yang dikutuk oleh-Nya.

Kami yang mempunyai tugas mengambil sebenarnya cuma satu. Berhubung kami tidak terikat dalam proses yang kalian jalani, tidak oleh ruang maupun waktu, sepintas kami kelihatan ada banyak. Memang begitulah kejadiannya. Dalam satu waktu ukuran kalian, kami bisa serentak mengambil banyak ruh dengan berbagai cara, dimana saja.
Sudah tak terbilang, berapa milyar ruh yang kuputuskan dari semua harapan dan impiannya, dari semua angan-angan dan cita-citanya, dari semua keasyikannya, dari semua kesenangannya, hartanya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, rumah-rumahnya, mobil-mobilnya, perusahaan-perusaha annya, jabatan-jabatannya, pacar-pacar gelapnya, dan lain-lainnya.

Tapi, itu tak cukup untuk mengingatkan manusia. Hingga iapun seperti keledai dipenggilingan masa, terperosok di lubang yang sama dari masa ke masa.
Kelalaian manusia dari mengingat kedatanganku nampaknya sudah menjadi penyakit zaman. Dari waktu ke waktu melakukan tugasku, kelalaian mereka terhadap kedatanganku menimbulkan rasa sombong dan berpanjang angan-angan. Entah sudah berapa banyak aku menghanguskan "business plan" mereka. Kaummu semestinya mengingat syair yang dibuat oleh seorang arif ini,

Kita lalai dari mati di pagi dan sore hari

Seperti penghuni dunia yang lalai
Dari kematian di sore dan pagi hari
Seseorang berjalan di suatu hari seperti tubuh tanpa ruh
Didepan mataku, setiap yang hidup adalah isyarat kematian
Merintihlah jiwamu wahai orang miskin,
bila engkau merintih
Sungguh, kau akan mati meski kau berumur seperti Nuh

Aku rasanya sudah kebal dengan semua keadaan ruh yang kutarik dalam keadaan apapun. Pembantu-pembantuku sejumlah mahluk berruh yang ada di semesta ini. Jadi, setiap saat sebenarnya aku mengintip semua makhluk, mengincar semua makhluk. Begitu sinyal terakhir diisyaratkan Allah SWT maka akupun akan beraksi memadamkan semua kepongahan dan harapan manusia.

Ketahuilah, sesungguhnya ruh dalam keadaan telanjang dalam tubuh seorang hamba, ia akan diambil apabila dikehendaki dan dilepaskan apabila dikehendaki oleh-Nya. Maka Bersiaplah untuk mati wahai jiwa dan berusahalah untuk selamat, orang bijak yang siap meyakini bahwa tak ada keabadian bagi kehidupan dan tak ada tempat pelarian dari kematian.
Engkau hanya peminjam apa yang mesti dikembalikan. Kita bukanlah pemilik kehidupan ini, juga bukan pemilik tempat hidup ini. Kita tak berharta, tak berkeluarga, tidak juga anak-anak kita miliki.

Semuanya orang-orang telanjang. Jiwa kita menuju masa yang dekat, Yang Meminjamkan akan mengambil yang dipinjamkan.
Sebenarnya aku juga ditugaskan untuk mematikan malaikat, setan, iblis, pohon, binatang, dan makhluk bernyawa lainnya. Maka ia yang bernyawa, pastilah akan gemetar melihat kedatanganku.

Sebenarnya, ada banyak cara aku menarik ruh dari tubuh atau jasad mahluk bernyawa. Hal itu sebenarnya tergantung dari segala hal yang membentuk kamu, amal-amal kamu, dan kelakukan kamu. Mau tau bagaimana aku menarik ruh dari tubuh manusia? Aku menariknya langsung dari jasad yang hidup melalui ubun-ubun kepala.

Kamu seringkan menyedot minuman dari dalam botol? Persis! Seperti itulah aku menarik ruh manusia dari tubuhnya. Saat itu kulakukan, seluruh sel-sel genetis tubuhmu mulai dari ujung kaki, sedikit demi sedikit akan mati. Maka, jemari kakilah yang akan mengalami kematian pertama kali, baru kemudian bergerak ke telapak kaki, tungkai, kemudian ke betis, lalu paha dan seterusnya. Pada keadaan ruh kutarik, ujung-ujung kaki akan mengejang, kaku. Dengan cara yang sama setiap bagian tubuh pelan-pelan akan kesakitan amat sangat dan kemudian mati rasa, bertanda ruh sudah melalui bagian itu. Maka, berpisahnya tubuh dengan ruh akan terjadi setelah ruh dan tubuh merasakan sakit yang sangat dahsyat.
Bagaimana rasanya. Susah kugambarkan, karena aku cuma melihat saja, kan aku yang mencabut nyawa. Aku cuma melihat saja bagaimana manusia yang kucabut nyawanya berkelojotan dengan berbagai ekspresi rasa sakit yang dia rasakan saat itu. Jadi aku sendiri ndak tahu bagaimana rasanya ketika ruh kutarik dari jasad manusia.

Tapi, baiklah, dari pengalamanku mungkin gambarannya bisa kusimpulkan demikian : Rasanya seperti disayat-sayat karena ruh kehidupanmu, yang menempel disetiap atom tubuhmu, sel-sel genetismu yang menjadi jaringan syaraf, otot, pembuluh darah, persendian, rambut, kulit kepala, kulit yang membungkus tubuhmu, dan semua bagian tubuhmu kutarik-tarik, kubetot-betot dengan keras. Bayangkan saja jika ruhmu enggan meninggalkan dunia, maka semakin enggan, semakin sakitlah rasanya. Kalau ndak percaya, coba saja kamu cubit kulitmu keras-keras. Sakit kan!
Kamu pernah kan mengalami luka disayat. Perih! Begitulah teriakan sebagian dari mereka yang kucabut ruhnya. Tapi luka tersayat yang sering dialami manusia tidak seberapa dibandingkan dengan tercabutnya ruh dari jasadmu dengan paksa. Kalau sayatan luka kan cuma terjadi di sekitar luka saja, itupun sakitnya sudah luar biasa dan terasa di bagian tubuh lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana kalau seluruh sel tubuh terasa disayat-sayat. Jangan heran kalau manusia akan berkeringat, menjerit, melolong-lolong, meraung-raung, dan menggeliat-geliat berkelojotan ketika ruh ditarik keluar dari kepompong tubuhnya.

Manusia akan terkuras tenaganya, akibat kelelahannya, ia bahkan tak lagi dapat bernafas, ia akan merasakan seperti tertimpa beban berat kesombongan, kedengkian, ketamakan, kemaksiatan, dan kejahilan lainnya. Namun demikian, apabila tubuh kuat, suara yang dikeluarkan ketika bernafas akan berbeda-beda. Ada yang dengan susah payah, ada yang mudah. Sesuai dengan amal yang pernah dilakukan tubuhnya.

Rasa sakit yang tak terkira muncul karena ruh yang lembut menjadi jinak dan menyatu setelah berhubungan dengan tubuh. Keduanya kemudian bercampur dan saling merasuki satu sama lain, sehingga keduanya seperti menjadi sesuatu yang satu. Ruh dan jasad menjadi melekat. Keduanya tak akan terpisahkan, kecuali dengan suatu upaya penarikan yang kuat, sehingga manusia merasakannya sebagai suatu kepayahan yang amat sangat dan sakit yang luar biasa.
Ketahuilah, kesukaanmu akan syahwat, nafsu dan materi serta keduniawian cenderung akan semakin melekatkan ruhmu dalam jasadmu. Kenapa demikian, ini karena atom-atom tubuhmu semakin memiliki energi yang tinggi, sehingga ikatan-ikatan atomis dalam tubuhmu akan semakin kuat.
Dikatakan bahwa tubuhmu menyimpan energi dalam yang berlebihan, sehingga seringkali energi berlebihan ini melonjak-lonjak dengan liar dan menumbuhkan berbagai syahwat dan nafsu. Kromosom-kromosommu akan terganggu, kode-kodenya yang asli akan jungkir balik, bahkan akibat langsungnya akan muncul menjadi berbagai penyakit yang payah seperti kanker, jantung, atau pikun. Itulah yang akan mencelakakanmu, akan menyiksamu.

Jadi semakin lekat ruh dalam jasad maka semakin sakitlah engkau rasakan ketika aku menarik-nariknya karena keengganan ruhmu meninggalkan jasadmu. Setelah rasa sakit tak terkira dan kekuatan jasad menurun, suara akan berangsur hilang, dan setiap bagian tubuh perlahan-lahan akan menjadi kaku.
Sakitnya penarikan ruh memang menggentarkan siapapun juga. Jangankan manusia biasa, para nabi dan rasul pun menggigil ketakutan manakala aku datang. Karena alasan itulah, seorang nabi yang paling dimuliakan diantara nabi-nabi dan rasul-rasul, Muhammad SAW, memohon kepada Allah SWT agar membebaskan beliau dari penderitaan dan kepedihan kematian.
Beliaupun sudah mengingatkan, "Perbanyaklah mengingat sesuatu yang menghancurkan kelezatan, yakni kematian." Banyak orang arif dan ulama yang membuat syair tentang hilangnya kelezatan ketika aku datang. Kata mereka,

Ingatlah kematian yang menghancurkan kelezatan
Dan bersiaplah untuk kematian yang akan datang
Wahai yang hatinya lalai dari mengingat kematian
Ingatlah tempatmu sebelum tiba saat perjumpaan
Bertobatlah kepada Allah dari kelalaian dan segala yang lezat
Sesungguhnya kematian sangatlah dekat
Ingatlah musibah hari-hari dan saat-saat yang terlewat
Jangan merasa tenang dengan dunia dan perhiasannya yang melekat

Dalam Al-Qur'an, Allah menggambarkan kesakitan saat penarikan ruh dalam firman dengan gambaran berikut "Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan) (QS 75:29)", yang banyak ditafsirkan oleh ulama sebagai berhimpunnya rasa sakit sakratul maut dengan kerugian karena melepaskan ridha Allah.

Allah menyebut keadaan tersebut dengan "sakrah", karena sakitnya kematian disertai dengan keburukan yang dihimpun akan membuat semaput pemiliknya, sehingga biasanya kesadarannya hilang. Allah berfirman, "Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya (QS 50:19)".
Bagaimana gambaran yang jelas mengenai rasa sakit dan penderitaan kematian memang bermacam-macam. Sehingga terdapat gambaran yang tidak persis sama, namun intinya serupa yaitu suatu rasa sakit yang tak terkirakan. Kamu mungkin dapat menyimak dari beberapa kisah tentang kematian berikut ini.

Hasan bin Ali pernah mendengar sabda Nabimu yang mulia yang mengatakan padanya bahwa "pedihnya kematian setara dengan luka-luka tiga ratus tusukan pedang". Ali Bin Abu Thalib kwj. bahkan menyebutkan setara dengan seribu pukulan pedang. Bisa kamu bayangkan bukan bagaimana sakitnya. Jangankan dipukul pedang, lha luka tergores silet saja bisa membuat manusia mengaduh-aduh nggak karuan, apalagi dipukul-pukul seribu kali dengan pedang.

Gambaran lain menyebutkan, kalau pedihnya kematian itu lebih tajam dari gigi gergaji, lebih tajam dari mata gunting, lebih menyakitkan daripada dipanggang diatas kawah panas gunung berapi. Makanya ada pepatah yang mengatakan bahwa "maut lebih menyakitkan daripada tusukan pedang, gergaji, atau sayatan gunting".
Para nabi dan rasulpun mempunyai gambaran yang menakutkan betapa pedihnya ketika aku datang. Dikisahkan ketika Nabi Musa meninggal dunia dan ditanya Allah bagaimana rasa sakitnya kematian yang ia rasakan, ia menjawab bahwa kejadian itu seperti seekor burung yang dipanggang hidup-hidup, tapi nyawanya tidak juga lepas dan ia tidak menemukan cara untuk melepaskan diri. Musa juga menggambarkan peristiwa itu seperti kambing hidup yang sedang dikuliti.

Bukankah Aisyah r.a pernah juga mengatakan bahwa ketika Nabi SAW akan meninggalkan dunia fana ini, ada secangkir air penuh tergeletak didekat beliau. Beliau mencelupkan tangannya kedalam cangkir berulang-ulang dan membasahi dan membasuh wajahnya. Beliau berdoa kepada Allah supaya dibebaskan dari sakratul maut.

Demikian juga, khalifah kedua Umar bin Khatab r.a. meminta Ka'ab menggambarkan keadaan ketika seseorang dalam sakratul maut. Dia menjawab "Pencabutan nyawa dari badan dapat dibandingkan dengan pencabutan duri-duri dari tubuh manusia sedemikian rupa sehingga seluruh tubuh merasakan cengkeraman rasa sakit yang amat sangat."
Itulah sekelumit gambaran bagaimana kami melakukan tugas pencabutan ruh dari tubuh manusia dan rasa sakit yang dirasakannya. Perlu kamu ketahui juga, kalau pengaruh pencabutan ruh, atau kematian itu tidak cuma sekedar ketika ruh dicabut dari jasadmu. Namun pengaruhnya akan terus-menerus dirasakan sampai keliang lahat.

Akan kuceritakan sebuah riwayat lama yang menginformasikan hal ini. Pernah sekelompok orang datang kekuburan dan berdoa kepada Allah untuk menghidupkan seseorang yang telah meninggal. Maksud mereka adalah ingin mengetahui bagaimana penderitaan yang dialami si mati pada saat aku beraksi. Atas idzin Allah, si mati yang kebetulan seorang yang bertakwa pun hidup kembali. Ia berkata, "Aku meninggal 50 tahun yang lalu, namun hingga kini rasa pedihnya belum hilang dari hatiku!". Bayangkan! Rasa sakit yang dialami ruh si mati yang nampaknya tidak hilang begitu saja, namun terasakan hingga puluhan tahun.

Aura kedatanganku yang menguat biasanya kalian sebut sebagai Sakratul Maut. Dalam keadaan sakratul maut, setiap saat sekarat demi sekarat akan manusia lalui, penderitaan demi penderitaan akan dirasakan, sakit demi sakit akan mengingatkan manusia pada semua perbuatannya, dan hal itu terus akan terjadi sampai ruhnya mencapai kerongkongannya.

Pada titik kritis ini, berhentilah perhatian manusia kepada dunia dan semua yang ada di dalamnya. Berhentilah semua harapan-harapan dan angan-angan mereka. Saat itu, simetri kegaiban pun terkuak dihadapannya, pemandangan alam akhirat pun muncul begitu saja. Pintu tobatpun ditutup dan manusia pun diliputi oleh kesedihan dan penyesalan. Ia mungkin akan teringat sabda Rasulullah SAW "Tobat seorang manusia tetap diterima selama dia belum sampai pada kondisi sakratul maut (yaitu sampainya nyawa di kerongkongan) ". Maka semakin menyesallah ia. Tapi semua itu terlambat dan ketika aku menampakkan diriku semakin nyata, maka saat itu jangan pernah bertanya tentang pahit getirnya kematian ketika sakratul maut tiba. Pendek kata karena kengerian tentang kedatanganku maka Rasulullah SAW pernah bersabda tentang aku, dengan sabdanya beliau sebenarnya hanya ingin mengingatkan manusia, katanya:
"Kalau kalian melihat ajal dan perjalanannya, pastilah kalian akan membenci angan-angan dan tipu dayanya.

Tak seorangpun penghuni rumah kecuali ada Malaikat Maut yang memperhatikan mereka dua kali sehari. Orang yang didapati ajalnya telah habis, maka dia cabut nyawanya.
Bila keluarganya menangis sedih, dia bertanya 'Mengapa kalian menangis?' Dan mengapa kalian bersedih?
Demi Allah, Aku tidak mengurangi umur kalian, tidak pula mengekang rezeki kalian, dan akupun tidak berdosa.
Sesungguhnya aku benar-benar akan kembali kepada kalian (yang masih hidup saat itu), kemudian kembali, dan kemudian kembali, sehingga aku tidak menyisakan seorangpun dari kalian.'"
Demikianlah, aku akan datang tanpa diundang dan pergi tanpa diantar. Ia yang saatnya sudah ditentukan, maka ia akan menghadapi aku sesuai dengan keadaannya, rasa sakitnya, dan kengeriannya.

Banyak ungkapan yang menggambarkan bagaimana rasa sakit ketika aku mencabut nyawa manusia. Namun, percayalah itu semua tidaklah lengkap benar karena keluarbiasaan sakratul maut tidak dapat diketahui dengan pasti, kecuali oleh orang yang merasakannya sendiri. Tahukah kamu, bahwa pencabutan nyawa termasuk kondisi spiritual yang cuma bisa dirasakan oleh orang yang kucabut nyawanya. Jadi, orang lain mungkin menggambarkan dengan ungkapan yang berbeda-beda. Tapi, begitulah kematian, ia hanya bisa dirasakan oleh yang meregang nyawanya sendirian.

Karena kematian termasuk keadaan ruhani, maka menjadi jelas bahwa keadaan ruhanimu sangat mempengaruhi bagaimana rasanya mati. Orang lain cuma bisa mengira-ngira saja dengan menganalogi- kannya dengan rasa sakit yang benar-benar pernah dialaminya, atau dengan cara mengamati orang lain yang sedang meregang nyawa. Lewat analogi pula akan diketahui bahwa setiap anggota badan yang tidak bernyawa, tidak bisa lagi merasakan rasa sakit.

Akan kuperjelas lagi bagaimana rasa sakitnya kematian. Gambarkan saja satu bagian dirimu terbakar api, maka rasa sakit yang dialami akan menjalar keseluruh tubuh dan jiwa. Dan sesuai dengan kadar yang menjalar ke jiwa, maka sebesar itu pula kadar yang dialami oleh seseorang. Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan selama sakratul maut menghunjam jiwa dan menyebar keseluruh tubuh. Sehingga bagi yang sedang sekarat, maka ia merasakan dirinya ditarik-tarik, dibetot, dan dicerabut dari setiap sel, urat nadi, syaraf, persendian, dari setiap akar rambut yang tumbuh dibadannya dan kulit kepala, hingga kaki. Jadi, jangan Anda tanyakan lagi bagaimana derita dan rasa sakit yang tengah dialami oleh mereka yang dijemput olehku!

Maka, perhatikanlah sekiranya kamu mengalami suatu peristiwa yang berhubungan dengan kematian, apakah itu kematian salah satu keluargamu, tetanggamu, atau teman-temanmu. Perhatikan bagaimanakah keadaannya! Gunakan pengalamanmu dalam mengiringi kematian sebagai pelajaran dan peringatan bagimu, bahwa tak ada yang abadi, semua pasti akan mati!

wassalam
Jeo Sorjan
~Senyum Manis Menyambut Maut~

Thursday, August 24, 2006

Monday, August 14, 2006

Satu Cerita Tentang Syair Pengamen...




Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar,
malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang Pengamen
yang membunyikan gitarnya. Pak Ustad sedang menerangkan
makna khauf, tapi suara gitar yang dimainkan itu
sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang
pikirannya sedang bekerja keras. "Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul
di masjid ini untuk berpesta!" gerutu seseorang. "Bukan sekali
dua kali ini dia mengacau!" tambah lainnya, dan disambung - "Ya, ya,
betul!" "Jangan marah, ikhwan," seseorang berusaha
meredakan kegelisahan, "ia sekedar mencari makan ..." "Ia tak punya
imajinasi terhadap apa yang kita lakukan!" potong seseorang yang lain
lagi. "Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan-jangan ia
minan-nashara!" sebuah suara keras. Tapi sebelum takmir masjid bertindak
sesuatu, terdengar suara Pak Ustadz juga
mengeras: "Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan
mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil
dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya
kepadaNya, yang lain-lain menjadi kecil adanya." "Tak usah menghitung
dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme
politik. Cobalah berhitung dulu dengan Pengamen. Beranikah Anda semua,
kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda
menjadi Pengamen? Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh
pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil
yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk menjadi Pengamen? Yakni
kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain dalam hidup ini
kecuali menjadi Pengamen? Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini,
takutkah atau tidak?" "Ingatlah bahwa tak seorang Pengamen pun
pernah takut menjadi Pengamen. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding Pengamen?
Karena pasti para Pengamen memiliki keberanian juga untuk menjadi
sarjana dan orang besar seperti Anda semua." Suasana menjadi senyap.
Suara petikan senar gitar dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk
hati para peserta pengajian. "Kita memerlukan baca istighfar lebih dari
seribu kali dalam sehari," Pak Ustadz melanjutkan, "karena kita masih
tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita
anggap derajat rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor,
takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan
mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat ... Masya Allah,
sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup
menomorsatukan Allah!"

Thursday, August 10, 2006

Satu Cerita Tentang Si Tua Sais Pedati..


Bergerak perlahan dengan pasti
Di jalan datar yang berlumpur
Sesekali terdengar gletar cemeti
Diiringi teriakan lantang

Si tua sais pedati

Derak pedati sebentar berhenti
Nampak si tua sais pedati
mulai membuka bungkusan nasi

Yang dibekali sang istri

Gerak pedati lalu jalan lagi
Singgah disetiap desa
Tanpa ragu-ragu tanpa malu-malu
Nafas segar terhembus
Dari sepasang lembu yang tak pernah
Merasakan sesak polusi

Dia tak pernah memerlukan
Dia tak pernah membutuhkan
Solar dan ganti olie
Bensin dan ganti busi
Apalagi charge aki

Dia tak pernah kebingungan
Dia tak pernah ketakutan
Apa kata orang tentang

Gawatnya krisis energi

Gerak pedati dan lenguh lembu
Seember rumbut dan gletar cemeti

Seakan suara adzan yang di-cassete-kan
Sementara itu sang bilal pulas mendengkur

Satu Cerita Tentang Ide Gila....

Dalam krisis moneter yang berkepanjangan. Untuk mencari nafkah, Caskim begitu pusing dibuatnya. Apalagi gitar tua warisan temannya yang selama ini menjadi alat pendaringannya sudah ditahan oleh Pol PP sebagai pengganti untuk penebus dirinya saat terkena razia penyakit masyarakat. Lalu apa yang selanjutnya bisa dijadikan pengganti untuk memenuhi lenguh perut diri dan istrinya? Apa yang diperbuat untuk biaya kelahiran anak pertamanya? Tidak ada benda berharga yang dapat digadaikan. Tak selembar ijazah pun pernah dikantonginya. Ia tidak tamat SD. Tak seorang saudara atau kenalan diharapkan bisa menjadi koneksi untuk bekerja di tempat yang lebih terhormat. Tak secuil pun keahlian yang pernah diperolehnya selama tinggal di kampung halaman dulu. Toh kalau ia bisa mencangkul lahan, lahan apa yang harus dicangkulnya di bawah gedung-gedung bertingkat.

Ia telah merasa lelah berfikir. Dalam berfikir, telah ia kerahkan seluruh indranya untuk menemukan cara yang bisa diperbuatnya untuk mendapatkan uang. Apalagi menurut dokter kelahiran anaknya itu harus dilakukan dengan operasi sesar. Caskim tak akan segila ini memikirkan uang. Lalu apa? Menjadi copet atau garong? Ya mungkin cara itulah yang paling mudah dan cepat untuk mendapatkan uang. Tapi bagaimana kalau diteriaki maling dan tertangkap massa, dihujani pukulan-pukulan lalu dibakar? Tak lama kemudian Caskim tersenyum sendirian. Ia telah menemukan ide. Ide gila. Diambilnya secarik kertas kosong. Ia mulai menulis:

Kepada Yth.

TUHAN YANG MAHA ESA

Di Tempat

Dengan hormat,

Melalui surat ini saya memohon kepada Tuhan. Berilah saya uang senilai Rp.100 ribu saja, untuk biaya melahirkan anak saya yang pertama. Saya sangat terdesak. Sekali lagi saya memohon dengan sangat, berilah saya uang.

Demikian permohonan saya, semoga dikabulkan. Terima kasih.

Sembah sujud hambamu

Caskim

Surat itu dimasukkannya ke dalam amplop yang telah ditulisinya alamat lengkap tujuan dan alamatnya sendiri, dibubuhi perangko. Surat itu diciumi. Mulutnya kelihatan komat-kamit sepertinya ia sedang berdoa. Surat tersampul rapi yang dilem dengan sebutir nasi itu di bawa ke tempat surat yang ada di tepi jalan. Dengan tangan gemetar surat itu dimasukkan ke dalam kotak berwarna orange yang bertuliskan Kotak Pos. Selesai. Balik kanan grak. Pulang.

Esoknya. “Bah, apa-apaan ini” Ibu Ani petugas sortir di kantor Pos bagai disengat tawon, terkejut begitu membaca alamat tujuan. Kemudian ia tersenyum. “Biarin aja, bisa untuk ngerjain si Amin. Tumpukkan saja di Sektor G. Johor. Beres”. Siangnya Amin mengayuh sepeda butut yang ada kicau burung : .. krecit…krecit…krecit… karena rantai yang tak pernah tersentuh minyak itu. Surat pun satu persatu di antar. Mana yang terdekat, itu yang diantar terlebih dahulu. Lagi-lagi surat itu membuat siapa saja yang membaca tulisan aneh itu mengerenyitkan alis matanya. Termasuk Amin. Sama seperti Ibu Ani tadi, Amin tersenyum. “Wah, ini amanah orang, kasihan orang ini” batin Amin terenyuh. “Alangkah berdosanya aku, jika surat ini aku sobek-sobek lalu ku buang ke tong sampah.

Sebagai tukang Pos yang sudah bertahun-tahun setia mengabdi kepada Negara. Seujung kukupun ia tidak mau melanggar hukum. Agak lama juga ia menimbang-nimbang. Akhirnya ia memutuskan bahwa, sebaiknya surat ini menjadi tugas Pak Polisi saja. Pas sampai di Pos Polisi, surat itu dilemparkan begitu saja di atas meja. Kebetulan Pak polisinya sedang tidak ada, barangkali sedang berada di kamar mandi. Sebelum Pak Polisi datang cepat-cepat Amin pergi, takut juga ia dibentak, dikira mengada-ada.

“Bah! Apapulak ini” teriak Pak Polisi yang baru keluar dari WC. Begitu mendapatkan surat Caskim berada di atas meja kerjanya. Lagi-lagi sepucuk surat buat kejutan. “Coba aku baca dulu isinya”. Pak Polisi merobek sampul surat, lalu membacanya agak keras agar terdengar oleh teman-temannya. Selesai membaca, ia berkomentar “Kasihan kali orang ini, cobalah kau bayangkan. Istrinya mau melahirkan, dia butuh uang”. Temannya manggut-manggut menanggapi penuturannya. “Sebaiknya kita lapor dulu kepada Pak Komandan kita”. Mereka berembuk. Komandan Polisi yang berpangkat Kapten ini begitu bijaksana. Ia memerintahkan kepada salah satu anak buahnya untuk mensurvei lokasi keberadaan rumah Caskim. Apakah memang benar-benar miskin. Jika kondisinya benar-benar miskin, maka Pak Polisi yang berkumis agak tebal itu, mengajak anak buahnya yang empat orang itu untuk mengumpulan dana yang selanjutnya disumbangkan kepada Caskim. Selama ini citra Polisi di mata masyarakat begitu buruknya. Kenapa kita tidak berbuat amal, membantu orang tak mampu. Kenyataan masyarakat menilai dari sisi jeleknya saja. Padahalkan tugas Polisi sangat berat. Berbasah-basah di timpa hujan. Berpanas-panas di sengat matahari. Terbatuk-batuk menghirup abu dan asap knalpot kendaraan. Tidak dinilai masyarakat, hanya dipandang sebelah mata. Apalagi jika jalanan macet, Polantas harus siap di lapangan meluruskan benang-benang kusut arus lalu lintas. Sungguh berat memang. Belum lagi teman-teman seprofesi yang setiap saat harus siap menghadang pengunjuk rasa. Dilempari batu, kayu dan telur busuk. Akan tetapi Polisi berusaha tetap tenang. Tidak emosi. Wajib melindungi rakyat.

Caskim membuka amplop yang baru diantar Polisi. Polisi langsung pulang. Ia tidak menjelaskan kepada Caskim bahwa sumbangan tersebut dari mana atau dari siapa. Namanya menyumbang secara ikhlas. Memang seharusnya tidak boleh takabur atau berbangga hati. “Men lah seng kuoso seng mbales” (biarlah yang kuasa yang di atas yang membalas). Sementara di dalam gubuknya Caskim mengeluarkan uang dari amplop dan menghitungnya. Lima lembar puluhan ribu, satu lembar duapuluh ribuan dan satu lembar lima ribuan. “Keterlaluan Pak Polisi, sudah punya gaji besar pun masih rakus juga. Yang aku minta ‘kan Rp 100 ribu, eh disunat Rp 25 ribu, tinggal Rp 75 ribu. Apa tidak keterlaluan itu namanya” Caskim merepet panjang lebar. Istrinya yang tiduran di atas dipan beralas tikar, beranjak duduk. “Sudahlah Mas, disyukuri aja gitu. Uang sejumlah itu ‘kan udah cukup lumayan.” Sahut istrinya lembut. “Lumayan gundulmu” bantah Caskim. “Hanya menambah Rp 25 ribu saja kok”. Nasihat istrinya masih tetap lembut.

Sementara Caskim masih belum puas. Ia mengirim surat kembali. Mengirim surat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Isinya minta tambahan Rp 25 ribu lagi yang menurut pemikiran Caskim dimakan Polisi yang mengantar surat. Surat pun bergulir, prosesnya sama seperti surat yang pertama. Rotasinya juga sama dan akhirnya sampai di kantor Polisi. Selesai membaca surat yang ke-2 dari Caskim, Pak Polisi geleng-geleng kepala. Memang sudah nasib kami. Berbuat baikpun kami masih disalahkan.